LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

DISUSUN OLEH:
Nama : Selamed Riadi
NPM : E1G015041
Prodi : Teknologi Industri Pertanian
Kelompok : 1 ( Satu )
Hari/Jam : Selasa/12:00-13:40 WIB
Tanggal :
19 April 2016
Co-Ass :
1. M. Abdul Ratam Ikhsan
2. Selestia Ningsih Pane
3. Veronicawati Sihotang
Dosen :
1. Drs.Syafnil.M.Si
2. Dra.Devi Silsia, M.Si
Objek Praktikum :
SAFONIFIKASI ESTER DAN
PEMBUATAN SABUN
LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sabun merupakan suatu kebutuhann pokok
manusia yang selalu digunakan sehari-hari. Fungsi utamanya adalah membersihkan.
Di lingkungan sekitar, banyak macam wujud sabun yang dapat ditemui, baik yang
dalam bentuk cair, lunak, krim, maupum yang padat. Kegunaannya pun beragam, ada
yang sebagai sabun mandi, sabun cuci tangan, sabun cuci peralatan rumah tangga
dan lain sebagainya (Herbamart, 2011)
Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak
hewan (tallow) dan dari minyak. Gugus induk lemak disebut fatty acid yang terdiri dari rantai
hidrocarbon panjang (C12 sampai C18)
yang berikatan membentuk gugus karboksil. Asam lemak rantai pendek jarang
digunakan karena menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak lain
adalah hidrolisis basa suatu ester
dengan alkali (NaOH atau KOH). Range atom C di atas mempengaruhi sifat-sifat
sabun seperti kelarutan , proses emulsi , dan pembasahan. Sabun murni terdiri
dari 95% sabun aktif dan sisanya adalah air, gliserin, garam dan kemurnian
lainnya. Semua minyak atau lemak pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat
sabun. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat daari alkohol dan asam
karboksilat seperti asam stearat, asam oleat, dan asam palmitat. Lemak padat
mengandung ester dari gliserol dan asamm palmitat, sedangkan minyak seperti
minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam oleat (Fessenden, 1982).
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan
yang terbuat dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai gugus bipolar.
Bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena
sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan dan
pakaian. Selain itu pada larutan surfaktan akan menggerombol membentuk misel
setelah melewati konsentrasi tertentu yang disebut konsentrasi kritik misel.
Sabun juga mengandung sekitar 25% gliserin. Gliserin bisa melembabkan dan
melembutkan kulit , menyejukkan dan meminyaki sel-sel kulit juga. Oleh karena
itu dilakukan percobaan pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat
sabun, sehingga akan didapat sabun yang berkualitas (Levenspiel, 1972).
Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16
yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka ait) dan larut
dalam zat organik sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat
hidrofilik (suka air) dan larut dalam air. Dalam proses pencucian, lapisan
minyak sebagai pengotor akan tertarik oleh ujung lipofilik sabun, kemudian
kotoran yang telah terikat dalam air pencuci karena ujung yang lain (hidrofilik)
dari sabun larut dalam air (Herbamart,
2011).
1.2
Tujuan Praktikum
1. Mengetahui prinsip safonifikasi.
2. Menggunakan ester sebagai bahan pembuatan sabun.
3. Membuat berbagai macam sabun untuk bahan cuci dan
kosmetik.
4. Menuji daya kerja sabun dalam air sadah.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak
atau lemak dicampur dengan alkali yang menghasilkan sabun dan gliserol. Prinsip
dalam proses saponifikasi, yaitu lemak akan terhidrolisis oleh
basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Proses
pencampuran antara minyak dan alkali kemudian akan membentuk suatu cairan yang
mengental, yang disebut dengan trace. Pada campuran tersebut
kemudian ditambahkan garam NaCl. Garam NaCl ditambahkan untuk
memisahkan antara produk sabun dan gliserol sehingga sabun akan tergumpalkan
sebagai sabun padat yang memisah dari gliserol (Gebelin, 2005).
Pliny (23 – 79) menyebut sabun dalam Historia Naturalis,
sebagai bahan cat rambut dan salep dari lemak dan abu pohon beech yang dipakai
masyarakat di Gaul, Prancis. Tahun 100 masyarakat Gaul sudah memakai sabun
keras.Ia juga menyebut pabrik sabun di Pompei yang berusia 2000 tahun, yang
belum tergali. Di masa itu sabun lebih sebagai obat. Baru belakangan ia dipakai
sebagai pembersih, seperti kata Galen, ilmuwan Yunani, di abad II.Tahun 700-an
di Italia membuat sabun mulai dianggap sebagai seni. Seabad kemudian muncul
bangsa Spanyol sebagai pembuat sabun terkemuka di Eropa. Sedangkan Inggris baru
memproduksi tahun 1200-an. Secara berbarengan Marseille, Genoa, Venice, dan
Savona menjadi pusat perdagangan karena berlimpahnya minyak zaitun setempat
serta deposit soda mentah. Akhir tahun 1700-an Nicolas Leblanc, kimiawan Prancis,
menemukan, larutan alkali dapat dibuat dari garam meja biasa. Sabun pun makin
mudah dibuat, alhasil ia terjangkau bagi semua orang. Di Amerika Utara industri
sabun lahir tahun 1800-an. "Pengusaha-"nya mengumpulkan sisa-sisa
lemak yang lalu dimasak dalam panci besi besar.Selanjutnya, adonan dituang
dalam cetakan kayu.Setelah mengeras, sabun dipotong-potong, dan dijualdari
rumah ke rumah.Begitupun, baru abad XIX sabun menjadi barang biasa, bukan lagi
barang mewah (Baysinger, 2004).
Sabun adalah hasil reaksi dari asam lemak dengan logam
alkali.Hasilpenyabunan tersebut diperoleh suatu campuran sabun, gliserol, dan
sisa alkali atau asam lemak yang berasal dari lemak yang telah terhidrolisa
oleh alkali. Campuran tersebut berupa masa yang kental, masa tersebut dapat
dipisahkan dari sabun dengan cara penggaraman, bila sabunnya adalah sabun
natrium, proses pengggaraman dapat dilakukan dengan menambahkan larutan garam
NaCl jenuh. Setelah penggaraman larutan sabun naik ke permukaan larutan garam
NaCl, sehingga dapat dipisahkan dari gliserol dan larutan garam dengan cara
menyaring dari larutan garam. Masa sabun yang kental tersebut dicuci dengan air
dingin untuk menetralkan alkali berlebih atau memisahkan garam NaCl yang masih
tercampur. Sabun kental kemudian dicetak menjadi sabun tangan atau kepingan dan
kepingan. Gliserol dapat dipisahkan dari sisa larutan garam NaCl dengan jalan
destilasi vakum.Garam NaCl dapat diperoleh kembali dengan jalan pengkistralan
dan dapat digunakan lagi (Ralph J. Fessenden, 1992).
Sabun berkemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak
sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua
sifat sabun :
1.
Rantai hidrokarbon sebuah
molekul sabun bersifat nonpolar sehingga larut dalam zat non polar,
seperti tetesan-tetesan minyak.
2.
Ujung anion molekul sabun, yang
tertarik dari air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang
menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak menolak antara tetes
sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tersuspensi
(Ralph J. Fessenden, 1992).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan
Bahan
Alat yang digunakan : Bahan
yang digunakan :
-
Batang
Pengaduk - NaOH 10%
-
Botol Semprot - HCl 10 %
-
Gelas Piala
1000 ml/500 ml - Minyak Kelapa
-
Gelas Ukur 10
ml dan 25 ml - Aquades
-
Kaca Arloji - Etanol
-
Kompor
Listrik/Gas - KCl
-
Penangas Air - Metil Salisalat
-
Pipet Tetes - Kertas Lakmus
-
Pipet Volume
5 ml - MgSO4
-
Penjepit
Tabung Reaksi - Pb(NO3)2
-
Tabung Reaksi
+ Rak -
NaCl Jenuh
-
Termometer
3.2 Cara Kerja
3.2.1
Safonifikasi
Ester
1. Memasukkan 1 ml NaOH 10% kedalam tabung reaksi.
2. Menambahkan 3 ml dan 5 tetes metil salisilat
kemudian memenaskan tabung reaksi didalam penangas air sampai bau ester menghilang
sejalan dengan berkurangnya lapisan ester, melakukan pemanasan selama 25 menit.
3. Mendinginkan tabung reaksi dibawah air dingin,
lalu menambahkan 1 ml HCl 10%, kemudian mengaduknya.
4. Memeriksa keasamannya dengan kertas lakmus.
5. Jika masih bersifat basa/alkali, menambahkannya
lagi dengan HCl 10% sebanyak 15-20 tetes sampai larutan bersifat asam, menguji
lagi dengan kertas lakmus.
6. Mencatat semua pengamatan.
3.2.2
Pembuatan
Sabun
1. Memasukkan 5 ml minyak kelapa kedalam gelas piala
500 ml, kemusian menambahkan 15 ml NaOH 3 M dan 20 ml etanol.
2. Mengaduk campuran tersebut dan memenaskan didalam
penangas air dengan suhu 90oC selama 20 menit, lalu mendinginkannya.
3. Setelah terjadi padatan, mengambil sedikit padatan
dengan bantuan batang pengaduk dan memasukkan kedalam tabung reaksi.
Selanjutnya larutkan dengan air panas, mengocoknya dengan kuat. Jika busa yang
dihasilkan baik, berarti tidak terdapat asam lemak bebas.
4. Menambahkan 25 ml larutan panas NaCl jenuh kedalam
gelas piala yang berisi sabun. Maka sabun akan terpisah dari gliserol.
Mendinginkan dan mengangkat padatan sabun yang diperoleh.
3.2.3
Menguji
sabung dengan air sadah
Menyediakan 4 tabung reaksi dan memasukkan 3 ml
larutan sabun dalam air.
Tabung 1 :
menambahkan 1 ml kalsium klorida (CaCl ) 1 M
Tabung 2 :
menambahkan 1 ml magnesium sulfat (MgSO4) 1 M
Tabung 3 :
menambahkan 1 ml timbal nitrat (Pb(NO3)2) 1 M
Tabung 4 :
tidak menambahkan apa-apa
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pengamatan
4.1.1 Safonifikasi Ester
No.
|
Percobaan
|
Hasil Pengamatan
|
1.
|
Gambarkan rumus
bangun metil salisilat
|
|
2.
|
Buatlah persamaan
reaksi metil salisilat dengan NaOH
|
|
3.
|
Buatlah persamaan
reaksi, hasil reaksi persamaan no 2 dengan HCl
|
|
4.
|
Bagaimana hasil
pemeriksaan dengan lakmus:
1.
2.
|
|
4.1.2
Pembuatan
Sabun
No
|
Hasil pengamatan
|
1.
|
Tulislah struktur
gliserida yang anda gunakan dalam percobaan ini.
|
2.
|
Tulislah reaksi
penyabunannya
|
4.1.3
Menguji sabun
dengan air sadah
No
|
Sabun dalam air
sadah
|
Hasil pengamatan
|
1.
|
+ CaCl
|
Busa hilang (air sadah)
|
2.
|
+ MgSO4
|
Busa hilang (air sadah)
|
3.
|
+ Pb(NO3)2
|
Busa hilang (air sadah)
|
4.
|
+ Aquades
|
Busa tidak hilang (tidak
air sadah)
|
4.2 Pembahasan
Percobaan kali
ini adalah reaksi saponifikasi, Saponifikasi merupakan proses pembuatan
sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak khususnya
trigliserida dengan alkali yang menghasilkan sabun dan hasil samping
berupa gliserol.Sabun adalah garam logam alkali yang mempunyai rangkaian
karbon yang panjangdari asam-asam lemak, dimana dalam percobaan ini alkali yang
dimaksud adalah natrium (Na) dari basa kuat NaOH. Gugus induk lemak
disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon
panjang (C-12 sampai C-18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Sabun
memiliki sifat yang unik, yaitu pada strukturnya dimana kedua ujung
dari strukturnya memiliki sifat yang berbeda. Pada salah satu ujungnya
terdiri dari rantai hidrokarbon asam lemak yang bersifat lipofilik
(tertarik pada atau larut lemak dan minyak) atau basa yang disebut ujung nonpolar sedangkan pada ujung lainnya
merupakan ion karboksilat yang bersifat hidrofilik
(tertarik pada atau larut dalam air) atau ujung polar. Reaksi saponifikasi
yang terjadi adalah sebagai berikut :
CH3(CH2)14CO2 H + 3NaOH → 3CH3(CH2)14CO2Na + C3H8O3.
Pada percobaan safonifikasi ester, pertama memasukkan NaOH 10% ketabung
reaksi, lalu menambahkan 3 ml air dan 5 tetes metil salisilat kemudian
memanaskannya dipenangas air selama 20 menit. Tunggu sampai bau dan lapisan
ester berkurang. Setelah itu dinginkan dan menambahkan 1 ml HCl 10% lalu
diaduk. Kemudian memeriksa keasamannya dengan menggunakan kertas lakmus. Jika
masih bersifat basa/alkali tambah lagi dengan HCl 10% sampai larutan bersifat
asam.
Langkah yang
dilakukan adalah mereaksikan NaOH yang telah dilarutkan dalam air mendidih
dengan minyak sayur dan dilakukan pengadukan agar larutan cepat bereaksi. Pada
saat dicampurkan, campuran membentuk 2 lapisan yang kemudian campuran
berubah wujud seperti susu kental dan tidak ada minyak yang mengapung di
atasnya dan berwarna kekuning-kuningan. kemudian ditambahkan 37,5 ml NaCl jenuh
untuk mengendapkan sabun lalu didinginkan dan disaring.
Kemudian pada uji
dengan air sadah yang membentuk busa pada larutan ketika ditambahkan dengan air
keran dan Mg hal ini membuktikan bahwa air keran tersebut bukanlah air
sadah karena jika ditambhakan dengan air sadah maka tidak akan terbentuk busa
dan akan terbentuk endapan putih.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pembuatan sabun dapat
dilakukan dengan proses saponifikasi dengan
mereaksikan minyak kelapa (trigliserida) dengan alkali (NaOH).
2. Ester dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam atau
basa.
3. Sabun kalium dan sabun natrium.
4.
sabun tidak bekerja efektif pada air sadah.
5.2 Saran
Kepada praktikan sebaiknya mengerjakan praktikum
dengan sungguh-sungguh agar praktikum dapat berjalan dengan efektif dan
efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Baysinger, Grace.Et
all.2004.CRC Handbook Of Chemistry and Physics.85th ed.
Fessenden, R.J. dan Fessenden, J.S.1982.Kimia Organik Jilid 1.Jakarta : Erlangga.
Fessenden, R. J.
and Fessenden, J.S.1990.Kimia Organik 3rd Edition.Jakarta :
Erlangga.
Herbamart.2011. Sejarah Sabun Mandi http://herbamart.wordpress.com/2011/04/
sejarah-sabun-mandi.html. diakses pada tanggal 22 april 2016 pukul 10:00
WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar