Senin, 02 Januari 2017

laporan praktikum kimia organik tentang safonifikasi dan pembuatan sabun



LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Description: H:\ \UNIB.jpg

DISUSUN OLEH:

Nama                           :  Selamed Riadi
NPM                           :  E1G015041
Prodi                           :  Teknologi Industri Pertanian
Kelompok                   :  1 ( Satu )
Hari/Jam                      :  Selasa/12:00-13:40 WIB
Tanggal                       : 19 April 2016
Co-Ass                        : 1. M. Abdul Ratam Ikhsan
                                      2. Selestia Ningsih Pane
                                      3. Veronicawati Sihotang
Dosen                          : 1. Drs.Syafnil.M.Si
                                      2. Dra.Devi Silsia, M.Si
Objek Praktikum         : SAFONIFIKASI ESTER DAN
  PEMBUATAN SABUN


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Sabun merupakan suatu kebutuhann pokok manusia yang selalu digunakan sehari-hari. Fungsi utamanya adalah membersihkan. Di lingkungan sekitar, banyak macam wujud sabun yang dapat ditemui, baik yang dalam bentuk cair, lunak, krim, maupum yang padat. Kegunaannya pun beragam, ada yang sebagai sabun mandi, sabun cuci tangan, sabun cuci peralatan rumah tangga dan lain sebagainya (Herbamart, 2011)
Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow)  dan dari minyak. Gugus induk lemak disebut fatty acid yang terdiri dari rantai hidrocarbon  panjang (C12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Asam lemak rantai pendek jarang digunakan karena menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis basa  suatu ester dengan alkali (NaOH atau KOH). Range atom C di atas mempengaruhi sifat-sifat sabun seperti kelarutan , proses emulsi , dan pembasahan. Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya adalah air, gliserin, garam dan kemurnian lainnya. Semua minyak atau lemak pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat sabun. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat daari alkohol dan asam karboksilat seperti asam stearat, asam oleat, dan asam palmitat. Lemak padat mengandung ester dari gliserol dan asamm palmitat, sedangkan minyak seperti minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam oleat (Fessenden, 1982).
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai gugus bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan dan pakaian. Selain itu pada larutan surfaktan akan menggerombol membentuk misel setelah melewati konsentrasi tertentu yang disebut konsentrasi kritik misel. Sabun juga mengandung sekitar 25% gliserin. Gliserin bisa melembabkan dan melembutkan kulit , menyejukkan dan meminyaki sel-sel kulit juga. Oleh karena itu dilakukan percobaan pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat sabun, sehingga akan didapat sabun yang berkualitas (Levenspiel, 1972).
Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka ait) dan larut dalam zat organik sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air. Dalam proses pencucian, lapisan minyak sebagai pengotor akan tertarik oleh ujung lipofilik sabun, kemudian kotoran yang telah terikat dalam air pencuci karena ujung yang lain (hidrofilik) dari sabun larut dalam air (Herbamart, 2011).

1.2              Tujuan Praktikum
1.      Mengetahui prinsip safonifikasi.
2.      Menggunakan ester sebagai bahan pembuatan sabun.
3.      Membuat berbagai macam sabun untuk bahan cuci dan kosmetik.
4.      Menuji daya kerja sabun dalam air sadah.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan alkali yang menghasilkan sabun dan gliserol. Prinsip dalam  proses saponifikasi, yaitu  lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah.   Proses pencampuran antara minyak dan alkali kemudian akan membentuk suatu cairan yang mengental, yang disebut dengan trace. Pada campuran tersebut kemudian ditambahkan garam NaCl. Garam NaCl  ditambahkan untuk memisahkan antara produk sabun dan gliserol sehingga sabun akan tergumpalkan sebagai sabun padat yang memisah dari gliserol (Gebelin, 2005).
Pliny (23 – 79) menyebut sabun dalam Historia Naturalis, sebagai bahan cat rambut dan salep dari lemak dan abu pohon beech yang dipakai masyarakat di Gaul, Prancis. Tahun 100 masyarakat Gaul sudah memakai sabun keras.Ia juga menyebut pabrik sabun di Pompei yang berusia 2000 tahun, yang belum tergali. Di masa itu sabun lebih sebagai obat. Baru belakangan ia dipakai sebagai pembersih, seperti kata Galen, ilmuwan Yunani, di abad II.Tahun 700-an di Italia membuat sabun mulai dianggap sebagai seni. Seabad kemudian muncul bangsa Spanyol sebagai pembuat sabun terkemuka di Eropa. Sedangkan Inggris baru memproduksi tahun 1200-an. Secara berbarengan Marseille, Genoa, Venice, dan Savona menjadi pusat perdagangan karena berlimpahnya minyak zaitun setempat serta deposit soda mentah. Akhir tahun 1700-an Nicolas Leblanc, kimiawan Prancis, menemukan, larutan alkali dapat dibuat dari garam meja biasa. Sabun pun makin mudah dibuat, alhasil ia terjangkau bagi semua orang. Di Amerika Utara industri sabun lahir tahun 1800-an. "Pengusaha-"nya mengumpulkan sisa-sisa lemak yang lalu dimasak dalam panci besi besar.Selanjutnya, adonan dituang dalam cetakan kayu.Setelah mengeras, sabun dipotong-potong, dan dijualdari rumah ke rumah.Begitupun, baru abad XIX sabun menjadi barang biasa, bukan lagi barang mewah (Baysinger, 2004).

Sabun adalah hasil reaksi dari asam lemak dengan logam alkali.Hasilpenyabunan tersebut diperoleh suatu campuran sabun, gliserol, dan sisa alkali atau asam lemak yang berasal dari lemak yang telah terhidrolisa oleh alkali. Campuran tersebut berupa masa yang kental, masa tersebut dapat dipisahkan dari sabun dengan cara penggaraman, bila sabunnya adalah sabun natrium, proses pengggaraman dapat dilakukan dengan menambahkan larutan garam NaCl jenuh. Setelah penggaraman larutan sabun naik ke permukaan larutan garam NaCl, sehingga dapat dipisahkan dari gliserol dan larutan garam dengan cara menyaring dari larutan garam. Masa sabun yang kental tersebut dicuci dengan air dingin untuk menetralkan alkali berlebih atau memisahkan garam NaCl yang masih tercampur. Sabun kental kemudian dicetak menjadi sabun tangan atau kepingan dan kepingan. Gliserol dapat dipisahkan dari sisa larutan garam NaCl dengan jalan destilasi vakum.Garam NaCl dapat diperoleh kembali dengan jalan pengkistralan dan dapat digunakan lagi (Ralph J. Fessenden, 1992).
Sabun berkemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat sabun :
1.      Rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun bersifat nonpolar sehingga larut dalam zat non polar, seperti tetesan-tetesan minyak.
2.      Ujung anion molekul sabun, yang tertarik dari air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak menolak antara tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tersuspensi (Ralph J. Fessenden, 1992).



BAB III
METODOLOGI
3.1  Alat dan Bahan

Alat yang digunakan :                                           Bahan yang digunakan :
-          Batang Pengaduk                                            -  NaOH 10%
-          Botol Semprot                                                 -  HCl 10 %
-          Gelas Piala 1000 ml/500 ml                            -  Minyak Kelapa
-          Gelas Ukur 10 ml dan 25 ml                           -  Aquades
-          Kaca Arloji                                                      -  Etanol
-          Kompor Listrik/Gas                                        -  KCl
-          Penangas Air                                                   -  Metil Salisalat
-          Pipet Tetes                                                      -  Kertas Lakmus
-          Pipet Volume 5 ml                                          -  MgSO4
-          Penjepit Tabung Reaksi                                  -  Pb(NO3)2
-          Tabung Reaksi + Rak                                      - NaCl Jenuh
-          Termometer

3.2  Cara Kerja
3.2.1        Safonifikasi Ester
1.      Memasukkan 1 ml NaOH 10% kedalam tabung reaksi.
2.      Menambahkan 3 ml dan 5 tetes metil salisilat kemudian memenaskan tabung reaksi didalam penangas air sampai bau ester menghilang sejalan dengan berkurangnya lapisan ester, melakukan pemanasan selama 25 menit.
3.      Mendinginkan tabung reaksi dibawah air dingin, lalu menambahkan 1 ml HCl 10%, kemudian mengaduknya.
4.      Memeriksa keasamannya dengan kertas lakmus.
5.      Jika masih bersifat basa/alkali, menambahkannya lagi dengan HCl 10% sebanyak 15-20 tetes sampai larutan bersifat asam, menguji lagi dengan kertas lakmus.
6.      Mencatat semua pengamatan.
3.2.2        Pembuatan Sabun
1.      Memasukkan 5 ml minyak kelapa kedalam gelas piala 500 ml, kemusian menambahkan 15 ml NaOH 3 M dan 20 ml etanol.
2.      Mengaduk campuran tersebut dan memenaskan didalam penangas air dengan suhu 90oC selama 20 menit, lalu mendinginkannya.
3.      Setelah terjadi padatan, mengambil sedikit padatan dengan bantuan batang pengaduk dan memasukkan kedalam tabung reaksi. Selanjutnya larutkan dengan air panas, mengocoknya dengan kuat. Jika busa yang dihasilkan baik, berarti tidak terdapat asam lemak bebas.
4.      Menambahkan 25 ml larutan panas NaCl jenuh kedalam gelas piala yang berisi sabun. Maka sabun akan terpisah dari gliserol. Mendinginkan dan mengangkat padatan sabun yang diperoleh.

3.2.3        Menguji sabung dengan air sadah
Menyediakan 4 tabung reaksi dan memasukkan 3 ml larutan sabun dalam air.
Tabung 1         : menambahkan 1 ml kalsium klorida (CaCl ) 1 M
Tabung 2         : menambahkan 1 ml magnesium sulfat (MgSO4) 1 M
Tabung 3         : menambahkan 1 ml timbal nitrat (Pb(NO3)2) 1 M
Tabung 4         : tidak menambahkan apa-apa




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil Pengamatan
4.1.1 Safonifikasi Ester
No.
Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
Gambarkan rumus bangun metil salisilat

2.
Buatlah persamaan reaksi metil salisilat dengan NaOH

3.
Buatlah persamaan reaksi, hasil reaksi persamaan no 2 dengan HCl

4.
Bagaimana hasil pemeriksaan dengan lakmus:
1.       
2.       

4.1.2        Pembuatan Sabun
No
Hasil pengamatan
1.
Tulislah struktur gliserida yang anda gunakan dalam percobaan ini.

       
    

2.
Tulislah reaksi penyabunannya







4.1.3        Menguji sabun dengan air sadah
No
Sabun dalam air sadah
Hasil pengamatan
1.
+ CaCl
Busa hilang (air sadah)
2.
+ MgSO4
Busa hilang (air sadah)
3.
+ Pb(NO3)2
Busa hilang (air sadah)
4.
+ Aquades
Busa tidak hilang (tidak air sadah)

4.2  Pembahasan
Percobaan kali ini adalah reaksi saponifikasi, Saponifikasi merupakan proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan sabun dan hasil samping berupa gliserol.Sabun adalah garam logam alkali yang mempunyai rangkaian karbon yang panjangdari asam-asam lemak, dimana dalam percobaan ini alkali yang dimaksud adalah natrium (Na) dari basa kuat NaOH. Gugus induk lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C-12 sampai C-18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Sabun memiliki sifat yang unik, yaitu pada strukturnya dimana kedua ujung dari strukturnya memiliki sifat yang berbeda. Pada salah satu ujungnya terdiri dari rantai hidrokarbon asam lemak yang bersifat lipofilik (tertarik pada atau larut lemak dan minyak) atau basa yang disebut ujung nonpolar sedangkan pada ujung lainnya merupakan ion karboksilat yang bersifat hidrofilik (tertarik pada atau larut dalam air) atau ujung polar. Reaksi saponifikasi yang terjadi adalah sebagai berikut :
CH3(CH2)14COH    +   3NaOH   → 3CH3(CH2)14CO2Na + C3H8O3.
Pada percobaan safonifikasi ester, pertama memasukkan NaOH 10% ketabung reaksi, lalu menambahkan 3 ml air dan 5 tetes metil salisilat kemudian memanaskannya dipenangas air selama 20 menit. Tunggu sampai bau dan lapisan ester berkurang. Setelah itu dinginkan dan menambahkan 1 ml HCl 10% lalu diaduk. Kemudian memeriksa keasamannya dengan menggunakan kertas lakmus. Jika masih bersifat basa/alkali tambah lagi dengan HCl 10% sampai larutan bersifat asam.
Langkah yang dilakukan adalah mereaksikan NaOH yang telah dilarutkan dalam air mendidih dengan minyak sayur dan dilakukan pengadukan agar larutan cepat bereaksi. Pada saat dicampurkan, campuran membentuk 2 lapisan yang kemudian campuran berubah wujud seperti susu kental dan tidak ada minyak yang mengapung di atasnya dan berwarna kekuning-kuningan. kemudian ditambahkan 37,5 ml NaCl jenuh untuk mengendapkan sabun lalu didinginkan dan disaring.
Kemudian pada uji dengan air sadah yang membentuk busa pada larutan ketika ditambahkan dengan air keran  dan Mg hal ini membuktikan bahwa air keran tersebut bukanlah air sadah karena jika ditambhakan dengan air sadah maka tidak akan terbentuk busa dan akan terbentuk endapan putih.




































BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
            1. Pembuatan sabun dapat dilakukan dengan proses saponifikasi dengan
    mereaksikan minyak kelapa (trigliserida) dengan alkali (NaOH).
            2. Ester dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam atau basa.
            3. Sabun kalium dan sabun natrium.
            4. sabun tidak bekerja efektif pada air sadah.

5.2 Saran
Kepada praktikan sebaiknya mengerjakan praktikum dengan sungguh-sungguh agar praktikum dapat berjalan dengan efektif dan efisien.



DAFTAR PUSTAKA

Baysinger, Grace.Et all.2004.CRC Handbook Of Chemistry and Physics.85th ed.
Fessenden, R.J. dan Fessenden, J.S.1982.Kimia Organik Jilid 1.Jakarta : Erlangga.
Fessenden, R. J. and Fessenden, J.S.1990.Kimia Organik 3rd Edition.Jakarta :
Erlangga.
sejarah-sabun-mandi.html. diakses pada tanggal 22 april 2016 pukul 10:00
WIB.